Cemburu
“Love is never without jealousy”
Slogan iggris diatas (yang artinya, cinta selalu disertai rasa cemburu, tanpa rasa cemburu cinta itu tidak ada) benar adanya, setidaknya menurutku sendiri, karena tenyata rasa cemburu itu kualaimi sekarang. Mesti aku sudah percaya pada kesetiaan dan keiffahannya, namun tetap saja, rasa itu memaksa datang dan menggedor perasaan hatiku.
Semenjak aku mendapatkan cintanya, ini pertama kali aku merasakan jealous. Pasalnya, secara tidak disangka aku dapat sms dari seorang temanku, bahwa dia telah mengatarnya membeli sesuatu.
Seketika itu juga, hatiku berceloteh "Ah, yang benar aja, nggak mungkin dia mau diajak jalan berdua. Walaupun mau, pasti dia tidak sendirian dan hanya ditemani oleh temanku itu."
Memang jarakku dengannya sangat jauh, terpisah oleh samudra, yang tak mungkin aku tempuh dengan hanya berjalan kaki, seperti halnya aku berjalan dari tempat tinggalku ke kota Tunis. Sebenarnya, dekat dan jauhnya jarak tidak terlalu berpengaruh akan komunikasiku dengannya. Sebab, meskipun jarakku dekat, katakan saja, aku berada satu kota dengannya, aku tidak akan sering bertemu, apalagi jalan berdua. It’s verry difficult.
Hal itu bukan berarti aku tidak mau atau tidak punya keinginan. Aku tidak hipokrit untuk megatakan bahwa ‘darah muda’ku sama merah dengan darah pemuda lain, bila kuturuti tentu saja aku sangat menginginkan apa yang mereka lakukan, misalnya; jalan berdua dan mentraktirnya makan. Namun, keimanan dan keyakinanku terhadap rambu-rambu agamaku lebih mendominasi, sehingga keinginan darah mudaku tadi dapat dikalahkan. Selain itu, diapun pasti sependapat dan sekeyakinan denganku dalam hal ini.
Kalau mengingat komitmennya, aku bangga sekaligus terharu. Jangankan jalan berdua, untuk sms-an tiap haripun dia ‘tidak setuju’. “lebih baik jangan sering sms-an, kita
Meskipun –seandainya- aku kurang sependapat, tidak merasa perlu ku komentari komitmennya tentang ‘jaga hati’, bila dia memang memahami dan dapat menjaga hatinya dengan tidak sering sms-an. Ke-seandai-anku tadi misalnya saja, sms-an untuk ‘saling mengenal’ dan saling mengingatkan dalam kebaikan, serta saling memberi motivasi. Terlepas dari semua itu, aku telah menyetujui segala komitmen dan prinsipnya tadi.
Aku tak tahu maksud dari sms temanku itu, kenapa dia kirim sms itu padaku. Aku yakin, temanku itu tidak tahu kalau aku dengan dia sudah ‘jadian’. Selain aku dan dia, hanya satu orang saja yang mengetahui tentang ‘jadian’ku, yaitu adik kandungku sendiri, Nendra. Entah kalau temanku tahu dari dia. Ah, tapi aku tidak yakin.
Ku kira, rasa cemburuku padanya adalah hal yang sangat wajar, yang tidak mesti harus disalahkan. Karena eksistensi rasa cemburu merupakan implikasi riil dari rasa cintaku padanya. Juga, karena istri Rosulullah pun, sebagai bentuk cintanya pada Baginda, pernah cemburu. Sebut saja, Sayyidah ‘Aisyah. Dia pernah cemburu kepada Rosulullah, ketika Baginda sering menyebut-nyebut Khodijah Ra. Hanya saja, hukum cemburuku saat ini masih ‘mubah’ belum sampai kepada derajat ‘wajib’.
Mubah yang kumaksud, karena aku –setidaknya- adalah ‘kekasih’nya merasa ‘mempunyai hak’ untuk ‘memperhatikan’, pantas dong aku cemburu bila dia ‘dekat’ dengan laki-laki lain, lebih-lebih bila laki-laki itu tanpa sepengetahuanku (dia tanpa memberitahuku). Adapun wajib yang kumaksud, kecemburuan yang diharuskan adanya, karena bila tidak ada rasa cemburu (bukan hanya bukti aku tidak mecintainya), berarti aku tidak akan mendapatkan kenikmatan syurga, jangankan nikmat syurga, baunyapun tidak akan kudapati. Rosulullah menyebutnya sebagai Dayyus (suami yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya). Kecemburuan yang wajib tadi, aku belum berhak saat ini. Semoga saja kecemburuan yang wajib itu bisa terwujud terhadap dia nanti. Amien Ya Rabb.
Dengan kejadian ini,
Di pinggiran kota Tunis
Ulpa® 18 Maret 2006

0 Comments:
Post a Comment
<< Home